Bad Dream


Akhir-akhir ini, di sekitar mataku terbentuk lingkaran hitam. Aku kesuliatan tidur saat malam. Mimpi buruk selalu menghantuiku saat aku memejamkan mata. Waktu tidurku menjadi tidak karuan. Terkadanga aku hanya tertidur 1 jam dalam sehari.
“Mimpi itu hanya bunga tidur. Mungkin lupa baca doa.”
Teman-temanku seringkali memberitahukan itu padaku. Aku selalu berdoa setiap kali mau tidur. Aku selalu melakukannya. Tapi, kejadian ini aneh. Aku sendiri bahkan tidak tau apa penyebabnya. Mimpi itu bahkan seperti nyata buatku. Pria asing yang bersimbah darah selalu datang dikamarku saat aku sudah tertidur. Selalu membelai rambutku dengan tangannya yang penuh luka bonyok. Membiarkan darah itu melengket di rambutku. Aku selalu terbangung saat dia datang. Tapi saat aku bangun, orang itu sudah tidak ada. Dan aku sadar bahwa itu hanyalah mimpi. Tapi karena mimpi itu, aku selalu takut untuk memejamkan mata. Seakan dia ada di hadapanku saat aku mulai memejamkan mataku.
Sudah hampir 2 minggu hal itu terus terjadi. Dan itu sangat berdampak buruk buatku. Pekerjaanku di kantor jadi kacau-balau. Terkadang aku setengah tertidur saat sedang makan siang. Dan membuatku selalu kurang makan. Dan pada akhirnya aku sampai pada batasku. Aku jatuh sakit.
“Bagaimana keadaanmu nak? Kamu kenapa bisa pingsan begini?!”
Aku terbangun di tempat yang asing. Semuanya serba putih. Ibu ada di sampingku. Nampak sekali di wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
“Ibu datang sama siapa?”
“Sama Ari. Kamu kenapa bisa sampai pingsan di kantor? Kata dokter kamu ini kurang istirahat sama kurang makan.”
Aku pun menceritakan semua yang terjadi padaku belakangan ini pada Ibu. Tentang sosok pria bersimbah darah yang selalu datang menghampiriku setiap malam. Yang selalu membuatku ketakutan saat mencoba menutup mata.
Mendengar ceritaku, Ibu kaget minta ampun. Dari wajah Ibu, aku tahu Ibu menyembunyikan sesuatu dariku.
“Kenapa Bu?”
Ibu menghela nafas panjang. Dia memandangiku dengan tatapannya yang sendu. Segumpal pertanyaan berkerumun di pikiranku. Ada apa sebenarnya?
Ibu bangkit dari tempat duduknya dan duduk di atas ranjangku. Dia memegang tanganku erat. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu masih ingat Dedi sayang?”
Nama itu memang terdengar familiar saat Ibu menyebutkannya. Tapi, aku tidak ingat. Siapa itu Dedi. Dan apa kaitannya dengan mimpi burukku belakangan ini.
“Tentu saja kamu tidak ingat. Kamu menghapusnya dari ingatanmu. Kamu yang menghilangkannya. Kamu harus menerima kematian Dedi nak.”
Mendengar ucapan Ibu, kepalaku jadi sakit. Rasanya seperti mau meledak. Satu persatu bayangan muncul dikepalaku. Dan tanpa kusadari, aku kembali pingsan.
Aku mengingat semua hal yang ku lupakan. Siapa sosok Dedi. Siapa sosok pria bersimbah darah yang selalu mendatangiku di setiap malam itu.
Selepas dari rumah sakit, aku dan Ibu kembali ke kota. Kami mengunjungi makam Dedi di daerah Punggolaka Permai. Aku melupakan sosok pria yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Dedi adalah tunanganku. 3 hari sebelum hari pernikahan, Dedi mengalami kecelakaan motor di daerah Puwatu. Saat itu dia sedang terburu-buru karena kerjaan kantornya tiba-tiba saja memanggil. Dedi sangat mencintai perusahaan yang sudah berhasil ia dirikan sendiri dengan usaha dan kerja kerasnya. Saat itu ada masalah keuangan di kantor. Semua pegawai angkat tangan. Terpaksa Dedi harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah itu. Tapi naas. Ternyata, itu adalah jalan takdirnya untuk menghadap kepada yang kuasa.
Kehilangan calon suami 3 hari sebelum pernikahan adalah tamparan yang sangat keras bagiku. Aku sempat gila. Keluargaku membawaku ke rumah sakit jiwa. Aku tidak bisa menerima kematian Dedi. Karena depresi berat tidak mau kehilangan orang yang aku cintai, aku menganggap bahwa aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku tidak memiliki tunangan. Dan aku tidak ingin berhubungan dengan pria manapun. Yang aku pikirkan adalah, aku hanyalah wanita karir yang gila kerja. Dan akhirnya, pikiran itu membuatku melupakan Dedi.
Depresiku mulai reda. Dokter yang melihat kondisiku mengatakan bahwa, satu-satunya cara agar aku bisa pulih dari depresi itu adalah tidak mengingat-ngingat tentang Dedi lagi. Ibuku akhirnya berbicara dengan kepala kantorku dan meminta agar aku bisa dipindah tugaskan ke luar kota agar segala sesuatu yang berhubungan dengan Dedi tidak mengingatkanku. Ari adalah Kepala kantorku. Dia anak angkat Ibu. Tentu saja permintaan Ibu dikabulkan olehnya.
2 minggu yang lalu adalah hari ke 40 Dedi meninggal. Mungkin, dia datang di setiap mimpiku untuk mengingatkanku tentang dia yang pernah hadir dalam hidupku. Yang pernah mengisi kekosongan dihatiku. Yang pernah menjadi seseorang yang special bagiku. Aku mencium nisan yang sudah basah karena air mataku. Berharap agar dia mendengar permohonan maafku karena sudah melupakannya. Dan aku mengirimkan doa untuknya. Berharap dia bisa tenang dan bahagia di alam yang sudah berbeda denganku saat ini.


-Agustus 2018-

Komentar

Posting Komentar